Varietas Jagung BISI


Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman yang telah lama dikembangkan dan dibudidayakan di Indonesia, serta menjadi salah satu tanaman pangan dunia yang penting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia juga menggunakan jagung sebagai sumber makanan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak, diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80 - 150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun tinggi serta relatif mudah perawatannya.
 
Peluang untuk mengembangkan tanaman ini dalam skala bisnis masih terbuka luas, karena permintaan pasar baik dari dalam maupun luar negeri sangat tinggi.

Dua Varietas Baru Jagung Hibrida 

PT. Bisi International Tbk. mengeluarkan dua varietas baru jagung hibrida, yakni Bisi-12 dan Bisi-222. Bisi merencanakan untuk memproduksi dan memasarkan varietas baru ini sebesar seribu ton tahun ini.
Dua varietas baru itu, menurut Wakil Direktur Utama Jemmy Eka Putra, diharapkan mampu memperbaiki produktifitas sehingga produksi jagung nasional meningkat. Potensi hasil varites ini adalah 12 hingga 14 ton per hektare dan asumsi rata-rata produksi 8 ton per hektare pipil kering.

Dengan luas lahan panen secara nasional 5,5 juta hektare, Indonesia diprediksi akan mampu memproduksi jagung 28 juta ton. Kelebihan produksinya sebanyak 14,5 juta ton. "Surplus ini dapat digunakan untuk ekspor ke negara-negara yang membutuhkan jagung," katanya di Surabaya, Kamis (27/7).


Untuk tahun depan, kata Jemmy, produksi dan pemasaran diproyeksikan hingga 8 ribu ton. Jumlah ini, menurut dia, setara dengan 30 persen dari total produksi benih jagung hibrida Bisi. "Kami juga ingin meningkatkan pasar menjadi 65 persen dari 60 persen tahun ini," ujarnya.


Dia menuturkan, produktivitas jagung Indonesia sejak 2002 hingga 2007 berkisar 3.087 hingga 3.470 ton per hektare pipil kering. Sementara, luas lahan panen tidak meningkat. Karena itu, untuk menaikkan produksi nasional mutlak diperlukan benih jagung hibrida berproduksi tinggi.
Jagung Super Hibrida BISI-12
  • Tanaman seragam & tahan roboh. 
  • Biji nancap dalam, jenggel kecil & rendemen tinggi (82-84%).
  • Potensi hasil mencapai 12,4 ton pipil kering per hektar.
  • Dapat di panen umur 99 HST.
  • Tahan terhadap penyakit bulai, karat daun & hawar daun.
  • Kebutuhan benih 20 Kg/Ha.
  • Jarak tanam 70 x 20 cm (1 lubang 1 biji tanam) atau dengan sistem Legowo 3.
Jagung Super Hibrida BISI-222
  • Tahan penyakit busuk pucuk tongkol (Gibberella Zeae) dan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis).
  • Potensi hasil mencapai 13,65 Ton/ha pipil kering.
  • Umur panen ± 100 hari setelah tanam.
  • Jumlah baris dalam tongkol ± 14 - 16 baris.
  • Warna biji orante kemerahan.
  • Cocok ditanam pada dataran tinggi.
  • Cocok dipanen muda untuk jagung rebus dan jagung bakar.
  • Jarak tanam 70 cm x 20 cm dengan 1 tanaman perlubang tanam.